Halaman

Minggu, 10 April 2011

Kanada (Rubrik kamera Anda)


 










    
          Salah Seorang Dari Team BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) (Paling Kiri)  Yang Sedang Menjalankan Tugas Di SMP Negeri 3 Babat. Dihadapannya Adalah Bapak Kacung Budi Santosa dan Ibu USwatun Khasanah.

Dewan Guru SMP N 3 Babat
Pada Upacara Hari Guru Nasional 2008
BU DWI RAHMAWATI sebagai Dirijen/ Konduktor
pada upacara Hari Guru Nasional
Peserta safari camp siap melaksanakan instruksi dari Pembina, Dwi Yono SP.d
Peserta lomba ratu ayu  Duta SMP N 3 di dinas P & K Babat
Novita Nur Indah Sari sedang berlenggak lenggok diatas cat walk
Sang Ratu sedang menerima penghargaan

Alat Berat Ini Untuk Merenovasi Lokasi Tanggul Yang Jebol Di Tegalsari-Widang, Akibat Meluapnya Sungai Bengawan Solo (Foto : Kak Suyono)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
SMP 3 BABAT NGANYARI TEMPAT PEMBANTAIAN
 HEWAN QURBAN
Lagi, Pak  Shobri Punya Profesi Baru, ‘Tukang Jagal’
Arsega Edisi lalu mengekspos Pak Shobri sebagai “tukang becak”
Bukan Pak Shobri jika tidak bisa mblekre’i sapi (menguliti / nglulangi dan memisahkan daging dari tulang-belulangnya). Maklum dan pantas saja,  kepala sekolah kita yang satu ini sebab beliau adalah menantu dari seorang jagal sapi Babat kenamaan, H.Idris. Pak Shobri akan malu bila tidak bisa njagal. Bisa-bisa dipecat dan tidak diakui sebagai mantunya Pak Haji Idris. Maka tak ayal pula Ibu Pipik Khoiriyah akan ditarik lagi dari tangan Pak Shobri, gitu…….ha…..ha…..ha……!!!!!
Oleh karenanya bertahun-tahun Pak Shobri menekuni dunia “molangan”(perdagingan dan jagal menjagal). Karena lihainya pula ayah dari Faza ini bisa memperkirakan seekor sapi itu menghasilkan daging berapa kwintal. “Saya bisa naksir sapi pedaging atau tidak, dilihat dan dipegang pantatnya” ujarnya ketika ditanya wartawan Arsega.
Karena tuntutan profesional juga, di lembaga SMP 3 Babat telah terbangun lantai jagal hewan, layaknya RPH (Rumah Pemotongan Hewan) beneran. Di atas lantai yang bentuk dan ukurannya persis disamakan dengan RPH (Jl. Jombang-Babat) itu dibangun di pojok bawah menara air secara permanen. Dengan biaya sekitar Rp 700.000 (tujuhratus ribu rupiah) itu bisa digunakan sepanjang masa. “Tempat pemotongan professional ini tidak di miliki sekolah lain, lho !!” kata Pak Shobri yang sangat antusias membangun sarana / prasaran yang langka itu. “Saya yakin 2 ekor sapi cukup membutuhkan waktu 1 ½  jam saja, sudah tuntas” lanjut Pak Shobri menjanjikan.



Sapi korban dibawa ke tempat jagal untuk disembelih

Pada lazimnya di lembaga sekolah, apabila menyambut Hari Raya Idul Qurban yang urunan beli kambing/sapi (hewan kurban) adalah murid-muridnya. Tapi ini tidak berlaku di SMP Negeri 3 Babat. Sebab yang berqurban adalah Guru/Karyawan. Dan ini sudah berjalan bertahun-tahun semenjak dahulu kala.
Untuk tahun ini yang berqurban adalah :
1. Drs. Zuber 2. Dra. Hj. Sukayah, 3. Dra. Mahmudah, 4. Yuniati, 5. Kacung Budi Santosa, 6. Pipit Mahatmi, 7. Gendut Edi Takarianto. 8. Suyonowidang, 9. Agus Imam, 10. Anik Rohmawati, 11. Arimah, 12. Sri Rahayu, 13. H.Dachlan, 14. Uswatun Khasanah. Aturan syareatnya : satu ekor sapi untuk 7 orang. Berarti tahun ini ada 2 ekor sapi yang disembelih, untuk 14 orang.
Pelaksanaan penyembelihan itu sendiri dilaksanakan hari Senin, 8 Desember 2008 setelah semalamnya mengadakan takbiran di Musholla yang amat meriah. Meski hujan turun deras, tidak menyurutkan niatan untuk menggemakan takbir.
Juru sembelih ditransfer dari jagal Pucuk, K. Muhtar. Sedangkan juru menguliti diadopsi dari jagal Babat,            yang sudah lihai mengelupas kulit dan sekaligus memisahkan antara daging dan tulang belulang.
“Daging qurban insyaalloh dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya” kata P. Roni, selaku ketua panitia. “Namum semua pihak harap maklum, karena yang penting sedikit-sedikit asal merata” sambung P. Mosah di sela-sela kesibukannya di lokasi penyembelihan.  = = =  (Reportase Oleh : Rizal Setiawan – 7 C) = = = =

In-Memoriam Pak Dachlan,
GURU PENDIAM ITU KINI BETUL-BETUL DIAM SELAMANYA
(Catatan Redaktur Arsega)


 




Datang, duduk dan baca-baca buku kemudian masuk kelas. Begitu istirahat : duduk dan baca-baca lagi. Walau guru-guru yang lain ngobrol ngalor-ngidul, Pak Haji itu tak menggubrisnya. Sekali-kali hanya meresponnya dengan senyuman yang tiada arti. Inipun jika dimintai komentar tentang sesuatu. Wal-hasil Pak guru yang sudah ALMARHUM itu ketika masih sugeng memang tidak banyak omong.
 Setidak-tidaknya begitulah gambaran sosok H.DACHLAN, Guru pria asal Blitar itu saban harinya.  Begitu pula sang istri, Hj. Siti Marliyah ( Guru SMPN 1 Babat ) juga mengikuti jejak sang suami : sama-sama sepeti GONG (nggak bersuara bila nggak dipukul). Kini jaua sama-sama menghadap kehadirat ILLAHI pada hari yang sama dalam musibah kecelakaan di Bojonegoro. = = = = = = =


 





In Memorial.....ABAH ZUBER
( Sesepuh SMP Negeri 3 yang murah senyum itu, telah meninggalkan kita untuk selamanya ).

Dengan mengucap Inna Lilahi Wa Inna Ilaihi Rojiun........
Satu lagi duka menyelimuti SMPN 3 Babat, dengan meninggalnya Abah Zuber seorang sosok guru yang murah senyum dan tak pernah basa basi itu kini ruang guru seolah sepi. Sebab setiap ucapan bapak beranak dua itu  selalu membawa suasana yang menyegarkan. Dengan-joki-jokinya yang kocak dan mengena, selalu menjadikan geeeerrr.... semua guru maupun karyawan.
Tapi sekarang suasana itu berkurang dengan kepergiaan seorang sosok  guru senior menghadap Sang Kholiq. Semoga jasa-jasa beliau dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita semua.
Abah Zuber meninggalkan kita semua tepat pada hari Rabo Tanggal 15 Juli 2009 pukul 10.30 Wib yang lalu setelah sekian lama keluar masuk RS. Selamat jalan Abah Zuber tercinta. Semoga Engkau tenang di alam baka. = = = = =

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =










    
          Salah Seorang Dari Team BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) (Paling Kiri)  Yang Sedang Menjalankan Tugas Di SMP Negeri 3 Babat. Dihadapannya Adalah Bapak Kacung Budi Santosa dan Ibu USwatun Khasanah.

Dewan Guru SMP N 3 Babat
Pada Upacara Hari Guru Nasional 2008
BU DWI RAHMAWATI sebagai Dirijen/ Konduktor
pada upacara Hari Guru Nasional
Peserta safari camp siap melaksanakan instruksi dari Pembina, Dwi Yono SP.d
Peserta lomba ratu ayu  Duta SMP N 3 di dinas P & K Babat
Novita Nur Indah Sari sedang berlenggak lenggok diatas cat walk
Sang Ratu sedang menerima penghargaan

Alat Berat Ini Untuk Merenovasi Lokasi Tanggul Yang Jebol Di Tegalsari-Widang, Akibat Meluapnya Sungai Bengawan Solo (Foto : Kak Suyono)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
SMP 3 BABAT NGANYARI TEMPAT PEMBANTAIAN
 HEWAN QURBAN
Lagi, Pak  Shobri Punya Profesi Baru, ‘Tukang Jagal’
Arsega Edisi lalu mengekspos Pak Shobri sebagai “tukang becak”
Bukan Pak Shobri jika tidak bisa mblekre’i sapi (menguliti / nglulangi dan memisahkan daging dari tulang-belulangnya). Maklum dan pantas saja,  kepala sekolah kita yang satu ini sebab beliau adalah menantu dari seorang jagal sapi Babat kenamaan, H.Idris. Pak Shobri akan malu bila tidak bisa njagal. Bisa-bisa dipecat dan tidak diakui sebagai mantunya Pak Haji Idris. Maka tak ayal pula Ibu Pipik Khoiriyah akan ditarik lagi dari tangan Pak Shobri, gitu…….ha…..ha…..ha……!!!!!
Oleh karenanya bertahun-tahun Pak Shobri menekuni dunia “molangan”(perdagingan dan jagal menjagal). Karena lihainya pula ayah dari Faza ini bisa memperkirakan seekor sapi itu menghasilkan daging berapa kwintal. “Saya bisa naksir sapi pedaging atau tidak, dilihat dan dipegang pantatnya” ujarnya ketika ditanya wartawan Arsega.
Karena tuntutan profesional juga, di lembaga SMP 3 Babat telah terbangun lantai jagal hewan, layaknya RPH (Rumah Pemotongan Hewan) beneran. Di atas lantai yang bentuk dan ukurannya persis disamakan dengan RPH (Jl. Jombang-Babat) itu dibangun di pojok bawah menara air secara permanen. Dengan biaya sekitar Rp 700.000 (tujuhratus ribu rupiah) itu bisa digunakan sepanjang masa. “Tempat pemotongan professional ini tidak di miliki sekolah lain, lho !!” kata Pak Shobri yang sangat antusias membangun sarana / prasaran yang langka itu. “Saya yakin 2 ekor sapi cukup membutuhkan waktu 1 ½  jam saja, sudah tuntas” lanjut Pak Shobri menjanjikan.



Sapi korban dibawa ke tempat jagal untuk disembelih

Pada lazimnya di lembaga sekolah, apabila menyambut Hari Raya Idul Qurban yang urunan beli kambing/sapi (hewan kurban) adalah murid-muridnya. Tapi ini tidak berlaku di SMP Negeri 3 Babat. Sebab yang berqurban adalah Guru/Karyawan. Dan ini sudah berjalan bertahun-tahun semenjak dahulu kala.
Untuk tahun ini yang berqurban adalah :
1. Drs. Zuber 2. Dra. Hj. Sukayah, 3. Dra. Mahmudah, 4. Yuniati, 5. Kacung Budi Santosa, 6. Pipit Mahatmi, 7. Gendut Edi Takarianto. 8. Suyonowidang, 9. Agus Imam, 10. Anik Rohmawati, 11. Arimah, 12. Sri Rahayu, 13. H.Dachlan, 14. Uswatun Khasanah. Aturan syareatnya : satu ekor sapi untuk 7 orang. Berarti tahun ini ada 2 ekor sapi yang disembelih, untuk 14 orang.
Pelaksanaan penyembelihan itu sendiri dilaksanakan hari Senin, 8 Desember 2008 setelah semalamnya mengadakan takbiran di Musholla yang amat meriah. Meski hujan turun deras, tidak menyurutkan niatan untuk menggemakan takbir.
Juru sembelih ditransfer dari jagal Pucuk, K. Muhtar. Sedangkan juru menguliti diadopsi dari jagal Babat,            yang sudah lihai mengelupas kulit dan sekaligus memisahkan antara daging dan tulang belulang.
“Daging qurban insyaalloh dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya” kata P. Roni, selaku ketua panitia. “Namum semua pihak harap maklum, karena yang penting sedikit-sedikit asal merata” sambung P. Mosah di sela-sela kesibukannya di lokasi penyembelihan.  = = =  (Reportase Oleh : Rizal Setiawan – 7 C) = = = =

In-Memoriam Pak Dachlan,
GURU PENDIAM ITU KINI BETUL-BETUL DIAM SELAMANYA
(Catatan Redaktur Arsega)


 




Datang, duduk dan baca-baca buku kemudian masuk kelas. Begitu istirahat : duduk dan baca-baca lagi. Walau guru-guru yang lain ngobrol ngalor-ngidul, Pak Haji itu tak menggubrisnya. Sekali-kali hanya meresponnya dengan senyuman yang tiada arti. Inipun jika dimintai komentar tentang sesuatu. Wal-hasil Pak guru yang sudah ALMARHUM itu ketika masih sugeng memang tidak banyak omong.
 Setidak-tidaknya begitulah gambaran sosok H.DACHLAN, Guru pria asal Blitar itu saban harinya.  Begitu pula sang istri, Hj. Siti Marliyah ( Guru SMPN 1 Babat ) juga mengikuti jejak sang suami : sama-sama sepeti GONG (nggak bersuara bila nggak dipukul). Kini jaua sama-sama menghadap kehadirat ILLAHI pada hari yang sama dalam musibah kecelakaan di Bojonegoro. = = = = = = =


 





In Memorial.....ABAH ZUBER
( Sesepuh SMP Negeri 3 yang murah senyum itu, telah meninggalkan kita untuk selamanya ).

Dengan mengucap Inna Lilahi Wa Inna Ilaihi Rojiun........
Satu lagi duka menyelimuti SMPN 3 Babat, dengan meninggalnya Abah Zuber seorang sosok guru yang murah senyum dan tak pernah basa basi itu kini ruang guru seolah sepi. Sebab setiap ucapan bapak beranak dua itu  selalu membawa suasana yang menyegarkan. Dengan-joki-jokinya yang kocak dan mengena, selalu menjadikan geeeerrr.... semua guru maupun karyawan.
Tapi sekarang suasana itu berkurang dengan kepergiaan seorang sosok  guru senior menghadap Sang Kholiq. Semoga jasa-jasa beliau dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita semua.
Abah Zuber meninggalkan kita semua tepat pada hari Rabo Tanggal 15 Juli 2009 pukul 10.30 Wib yang lalu setelah sekian lama keluar masuk RS. Selamat jalan Abah Zuber tercinta. Semoga Engkau tenang di alam baka. = = = = =

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

0 komentar:

Posting Komentar