SATU POHON FULL BENALU
Benalu termasuk tumbuhan pengganggu. Disebutnya Epyphyta (menempel lagi pula menyerap sari makanan yang ditumpangi). Cara penularannya antara lain melalui paruh burung yang katutan buah benalu. Kemudian digosok-gosokkan pada dahan/batang pohon. Maka tumbuhlan benalu pada dahan/ranting yang ditempelei itu. Atau bisa jadi biji benalu keluar bersama kotoran burung/hewan pemakan biji-bijian, lalu jatuh pada batang tanaman berkambium lantas hiduplah generasi baru dari benalu itu.
Mula-mula pohon yang bertengger di halaman sekolah itu adalah pace/mengkudu. Entah siapa yang menanamnya, tidak diketahui. Mungkin saja pohon itu tumbuh secara liar. Persisnya di taman (depan kelas 8-A). Meski pohon itu tidak teropeni, namun kenyataannya tumbuh dengan subur. Mapan kebeneran : sebagai penambah kerindangan dan penghijauan. Buah yang beraroma tajam itu dibenci banyak orang. Akan tetapi tidak bagi penulis, yang sesekali memanen buahnya untuk dijadikan minuman juice mengkudu. Konon sudah banyak yang membuktikan : sari buah mengkudu dapat menyehatkan badan. Itulah sebabnya penulis melarang untuk menghabisi pohon yang satu ini.
Lama kelamaan pohon pace itu ditumbuhi benalu. Hingga gambar dan tulisan ini digarap, pohon iyu full kemladeh. Buah pace berikut dengan dedaunannya nyaris hilang semua. Jadi yang tampak dominan adalah benalu/kemladeh yang merugikan itu. = = = (AFMOS) = = =

Pohon Pace Yang Full Kemladeh
= = = = = = = = = = = = = = = = =
Blusukan Dari Galangan Ke Galangan :
CARI HARGA YANG PAS, BARANG BERKUALITAS
TEAM Pembangunan SMP Negeri 3 Babat sering mengadakan safari jalan-jalan. Objeknya adalah galangan toko materialan. Sambil nguping sana nguping sini, mencari harga termurah namun kwalitas terunggul, barang menawan. Seperti halnya Minggu pertengahan bulan lalu serombongan mobil chary yang dikemudikan Pak Sobri, meluncur dengan kecepatan sedang. Yang dituju adalah agen besi yang bermarkas di Mojokerto.
Di toko PUTRA SETIAWAN itu disepakati harga, kemudian 3 hari berikutnya terkirim beberapa barang diantaranya : paku, besi, kawat bendrat, papan cor dll senilai puluhan juta rupiah. Memang jika dibnanding dengan wilayh Lamongan dsk, ternyata dari agen yang satu ini sangat murah sekali.
Lalu mobil yang ditumpangi Pak Gendut dan Pak Fan serta Pak Agus (Kepala SMP 2 Modo) itu mampir di pangkalan udara Kabuh, sambil mancari informasi lokasi perkemahan. Tapi sayangnya pihak pangkalan udara terlalu mahal memasang tarik pengisian kas. Rencana 60 peserta perkemahan dari SMP Negeri 3 Babat itu diwajibkan mengisi uang kas sebesar Rp 850.000 (delapan ratus limapuluh ribu rupiah). Akhirnya para Pembina itu pun piker-pikir telebih dahulu. Memang fasilitasnya cukup oke banget, Ada lapangan yang terbentang luas, air bersih beberapa tangki, kamar mandi dan WC, lampu listrik ukuran lapangan, aula untuk pertemuan dan tenda militer untuk pembina.
= = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = =
Dari Arena LDKMS & Safari Camp :
ADA RUTE-RUTE YANG MENYERAMKAN

Setelah upacara pembukaan rampung, yang kala itu dibuka oleh Kak Urip Arga sebagai wakil dari Kak Sobri, para peserta dipersilahkan menikmati bekal SGB (Sego Bungkusannya) masing-masing. Sedangkan para Pembina damping termasuk asisten DKG menikmati nasi yang dipesan dari orangtua/walimurid Ella Pitalloka, yang juga sebagai Kepala Dusun Banjaranyar.
Pemandangan lain di lokasi lapangan dan hutan jati itu, anak-anak bermaian sepakbola. Padahal mereka telah menempuh perjalanan 3,5 km. Namun mereka tidak menampakkan kelelahan. Ini karena semangatnya yang sangat tinggi sekali. Walau di sana-sini banyak peserta yang berceloteh : “Capek…! Tidak kuat ….!” Dll.
Begitu saatnya adzan maghrib, penulis kebagian menyuarakan panggilan Illahi. Dengan lantangnya penulis yang gibol ini mengumandangkan adzan. Kak Roni Firdaus sebagai imam sholat menjamaknya dengan isyak, yaitu jamak taqdim.
Di keheningan malam yang diiringi gerimis rintik-rintik itu kami semua diajak jelajah malam. Semua lampu senter disita sementara. Hanya diperbolehkan membawa secuil lilin yang menyala. Sesekali mati tertiup angin. Apeslah kalau sudah begitu. Suasana gelap gulita. Jauh dari pemukiman. Jarak peserta dengan peserta yang lain kira-kira 100 meter atau perjalanan 3 menit.
Pembina yang terkenal gemol,Kak Helmi Setiawan malam itu menyarankan peserta agar mencium tanah dan mendengarkan dari bisikan dalam bumi. “Ternyata ada suara “CINTAI SEMUA CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA” tutur Kak Helmi. Ini juga mengisyaratkan agar semua ummat bersujud syukur kepada Alloh.
Dan renungan malam itu disampaiakan oleh Kak roni dan Kak Rikasari dengan sentuhan-sentuhan qolbu hingga banyak yang menangis terisak-isak merenungi dosa dirinya.
Semua peserta jelajah malam itu bingung dengan rute yang muter-muter. Padahal sangat dekat sekali. Tapi karena suasana gelap mencekam, peserta tak kuasa menahan rasa takut. Bahkan ada yang berteriak histeris, karena ada halusinasi yang menyerupai penampakan.
Penulispun selau berdo’a dalam hati :”Ya Alloh berilah keselamatan hamba-Mu ini” dan alhamdulillah penulis selamat hingga di finish bersama kakak Pembina. Dan kami pun istirahat malam di serambi masjid dengan berlesehan hingga datangnya pagi. = = = = (Reporter : Rizal Setiawan 7-C) = = = =
= = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
DAPAT HITUNGAN LAYAKNYA PETINJU YANG SEDANG K-O
Sehabis sholat Subuh Minggu pagi 28 Desember 2008 itu semua peserta dan pembina meneruskan safarinya. Kini yang dilewatinya adalah permukiman yang jarang dijamah manusia. Tak ayal pula rombongan bergengsi dari SMP 3 ini merupakan pemandangan special buat rakyat pedesaan.
Desa yang kami lalui adalah Kemiri, Bulugondang, Bendungan hingga Sumurgenuk bagian persawahan. Karena semalaman hijan terus, maka jalur yang dilalui peserta safari camp kala itu penuh dengan lumpur. Banyak peserta yang kurang waspada dan hati-hati sehingg berjatuhan.
Sebut saja misalnya Luki Mariyati, Uki, si kribo Leni, U’un Kikiwati dll saling berjatuhan : GEDABRUG, langsung bajunya belepotan linet semua. Kesempatan ini digunakan oleh Kak Mosah untuk menghitung 1-7 kali hitungan. Persis layaknya wasit tinju yang menghitung pemain yang sedang jatuh KO. Seperti halnya pada U’un Yuli Kikiwati. Hampir-hampir cewek asal Widang ini menangis gara-gara sekujur pakaiannya basar semua. Dan U’un pun merengek minta ganti baju dan celana. Mau ganti di mana wong kita di tengah-tengah persawahan yang adoh lor adoh kidul.
Sebut saja misalnya Luki Mariyati, Uki, si kribo Leni, U’un Kikiwati dll saling berjatuhan : GEDABRUG, langsung bajunya belepotan linet semua. Kesempatan ini digunakan oleh Kak Mosah untuk menghitung 1-7 kali hitungan. Persis layaknya wasit tinju yang menghitung pemain yang sedang jatuh KO. Seperti halnya pada U’un Yuli Kikiwati. Hampir-hampir cewek asal Widang ini menangis gara-gara sekujur pakaiannya basar semua. Dan U’un pun merengek minta ganti baju dan celana. Mau ganti di mana wong kita di tengah-tengah persawahan yang adoh lor adoh kidul.
Ternyata belum sampai pada hitungan ke 7 anak-anak yang laian jatuh tersungkur itu bangun lagi. Sialnya, begitu bangun dan berjalan samapai beberapa langkah ternyata jatuh lagi dan dihitung lagi. Begitu seterusnya. Namun mereka tetap tertawa terbahak-bahak. Sebagian peserta mencibirnya dengan lagu JATUH BANGUN AKU …….. (yang dinyanyikan Kristina).
Sesampainya di desa Sumurgenuk, anak-anak yang KO tadi mandi dan cuci kaki di rumahnya Novitasari si juara Ratu Ayu. Sebagian peserta ngepos di pendopo Desa Sumurgenuk guna menikmati nasi bungkusan gratis dari panitia. Setelah kenyang dan istirahat seperlunya, peserta itu meneruskan perjalanan menuju lokasi SMP 3 lagi. === = (Reporter : Aditya Marliana Lutfi 7-C) = = = =
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Penginapan Safari Camp :
AJANG ”DONOR DARAH” DADAKAN


Jika kita mendangar ada istilah Dangdut Mania Dadakan, maka kali ini kita juga punya istilah Donor Darah Dadakan. Betapa tidak ! Menginap di Safari Camp yang jauh dari perkotaan itu mempunyai kisah tersendiri.
Adalah Kakak-kakak Pembina yang menunggu barang-barang berharga di mobil Tossa yang dicarter panitia. Hampir sekujur tubuhnya dikerubuti nnyamuk-nyamuk nakal. “Padahal sudah diolesi soffel, autan dan bahkan bensin yang dicampur oli” kata Kak Agus Imam. “Tapi perutnya Kak Roni masih dirubung nyamuk” lanjut Kak Agus Imam menuturkan kepada Arsega pagi harinya.
Bagaimana kondisi Kak Agus Imam sendiri ? Ternyata tidak seekor nyamukpun berani mengempel pada tubuh guru yang lihai menjadi MC penganten itu. “Itu karena Kak Agus Imam punya tenaga dalam, sehingga nyamuk saja nggak berani mendekat” seloroh guru/Pembina yang lain.
Sementara pemandangan di serambi masjid yang dihuni peser5ta yanbg laian, juga mengisahkan yang sama. Rata-rata peserta dan Pembina tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan ada salah seorang peserta yang menghabiskan 5 bungkus Autan, ternyata tidak mempan. Itung-itung malam ini kita niati donor darah kepada nyamuk-nyamuk yang kelaparan.
Kata Pak Suyono : “Sebetulnya nyamuknya hanya satu. Temant-teman nyamuk yang lain itulah yang menggigit kita” ujar lelaki asal Widang itu bergurau yang disambut gggeeerrrrr para peserta di serambi masjid malam itu.
Lain kagi dengan Kak Mosah, yang malam itu sedang tidur nyenyak, lalu terbangun gara-gara ada kiriman ketela goring dan pisang dari Kepala Desa Kepoh, bapakanya Mudzakir Ma’ruf. Maka Kak Mosah pun malam itu menikamti camilan itu dengan lezatnya yang diikuti oleh peserta yang lain. = = = = Reporter : Kiki Devi Mega Putri 7-C) = = = = =
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Peserta Safari Camp :
AJAIB, UKURAN SEPATU BERTAMBAH PANJANG DAN BESAR
Ada kisah kocak tersendiri, jika mengikuti serangkaian perjalanan safari camp (jelajah dari desa ke desa). Begitu aba-aba bongkar tenda dimulai, seliruh perangkat berat semacam tenda, tiang besi, terop Pembina desel, dsb dimasukkan ke kendaraan TOSSA yang dikontrak semalam. Bang sopir semalampun jadi sasaran nyamuk-nyamuk nakal.
Lapangan yang semalam diguyur hujan, kini jembrot tak karuan. Tentu saja peserta yang mengemasi barang-barang itu sepatunya debul tanah hingga membuat sepatu bertambah berat.
Maka ada resep khusus untuk membersihkan sepatu yang lengket penuh dengan tanah, yaitu mengikuti aba-aba dari salah seorang Pembina : “Loncat-loncat di tempat,….grakkk ….” Niscaya sepatu debul tadi dijamin akan rontok semua.
“Betul, kan ? kini ringan sekali sepatu Anda” tukas Kak Mosah di sela-sela kerumunan anak-anak yang mengeluhkan ukuran sepatunya. Begitu juga roda tossa. Kini bannya bertambah tebal dan besar. Maka si pemiliknya terus menjalankan kendaraannya, kemudian mengguyurnya dengan air kran yang memancar di halaman SMP 3.
Lain jalur tossa, lain pula jalur peserta. Kini arah peserta yang berjalan kaki adalah menuju desa Gunung, Bendungan dan Kemiri. Sesampainya masuk Dusun Bulugondang, peserta ada yang menikmati nasi bungkusan. Setelah kenyang mereka meneruskan perjalanan. Arahnya adalah keluar dari Bulugondang. Di jalur utara itu pejalan kaki menyusuri areal persawahan. Di atas pematang sawah itulah sepatu anak-anak mengalami pembesaran dan perpanjangan. Bahkan bertambah berat sekali.
“Lihat, Kak sepatunya Fierda bertambah panjang seperti perahu” kata Wawan. Yang disambut gelak tawa peserta yang membuntuti Fierda. Sementara yang digojlog tersenyum simpul tak menghiraukan ocehan temannya.
Satu lagi resep berjalan pada medan yang licin dan berlumpur, yaitu bertumpu pada tongkat. “Itulah, mengapa banyak peserta yang terpeleset, karena tidak menggunakan tongkatnya untuk bertumpu” ujar Kak Mosah memperagakan penggunaan tongkat.
Atau bisa juga peserta ditarik dengan tali oleh peserta yang lain. Pramuka kan tidak kehilangan akal. = = = = = ( Reporter : Moh. Asrori 7-E) = = ==
LEBIH DEKAT DENGAN KAYANGAN API
Meski lokasinya terletak di tengah-tengah hutan jati kecamatan Ngasem Bjonegoro, namun tidak mengurangi niatan para pengunjung untuk dolan-dolan ke Kayangan Api. Lebih-lebih jika malam 1 Suro dan malam Jum’at Pahing. Para peziarah banyak yang ngalab berkah. Diyakini bahwa bebatuan yang terbakar di sumber api itu dapat memnyembuhkan berbagai macam penyakit. Kayak dukun Ponari saja. Tapi yang satu ini lain ceritanya.
Juru kunci taman wisata Kayangan api, Mbah Widji (78 th) mengisahkan bahwa nama Kayangan Api terkait dengan kerajaan Majapahit. Prabu Jayengrana dan patih Gajahmada harus menyingkir / pindah ke desa Dander karena ada suatu pembereontakan. Para petinggi kerajaan menyuruh Empu Kriyo Kusumo untuk melunakkan logam yang akan dijadikan senjata.
Dengan ilmu kedigdayaan yang tinggi, sang Empu (pembuat keris) terbang melayang (ngayang) persis di atas sumber api temuannya. Tindakan ngayang (terbang) di atas api itu sebagai inspirasi masyarakat untuk menamai desa, sehingga menjadi : Kayangan Api.
Munculnya sumber api yang tak kunjung padam itu ternyata membawa berkah tersendiri. Setidaknya bagi Yanto (37) asal Ngawi, yang mempunyai penyakit rheumatic, langsung sembuh begitu memanggang tubuhnya di dekat sumber api yang hangat itu.
Menyoal khasiat bara api itu, Mbah Widji membenarkan : “Memang betul Api Kayangan ini mengurangi keluhan-keluhan semisal sesak napas, pegal linu, dan bahkan pernah ada penderita AIDS berobat kesini” tutur juru kunci itu.
Secara ilmiahnya, memang setelah memanggang di tengah-tengah bara api, peredaran darah lancar dan sakit pegal-pegal linu akan hilang. = = = = (Kiriman : TIKA FEBRIYANA – 8 A) = = = =
0 komentar:
Posting Komentar